Bijak Menggunakan Earphone/Headset

headshetTerlalu sering mendengar bunyi keras atau suara bising dalam tempo lama dan terjadi tiap hari bisa mengganggu pendengaran. Suara keras dan bising tidak hanya berasal dari tempat kerja, tetapi juga tempat rekreasi, atau mendengar audio keras, termasuk lewat earphone.

Earphone, headset ataupun perangkat semisalnya merupakan perangkat yang sangat akrab dalam kehidupan kita sehari-hari terutama remaja dan mahasiswa. Perangkat ini lazim digunakan untuk mendengarkan audio/musik baik dari Ipod, handphone, maupun tape recorder. Namun, siapa sangka jika ‘gadget’ ini dapat mengganggu kesehatan indera pendengaran atau telinga. Kajian Komisi Eropa menunjukkan, kebiasaan mendengar musik dengan earphone dengan volume tinggi (di atas 100 desibel), lebih dari satu jam sehari dalam jangka minimal lima tahun, membawa risiko gangguan pendengaran permanen.

Sebagai tambahan pengetahuan bahwa suara itu diukur berdasarkan desibel (dB), dengan nilai 0 merupakan suara paling lembut yang bisa didengar manusia dan 180 adalah suara bising yang ditimbulkan oleh roket yang akan diterbangkan ke luar angkasa. Rata-rata level suara percakapan sekitar 60 dB, sementara suara dari konser musik rock mencapai 115 dB. Para ahli percaya, paparan suara yang melebihi 85 dB dalam jangka panjang sangat berbahaya. Perlu diingat, volume suara tertinggi dari pemutar MP3 atau iPod adalah sekitar 100 dB. Sebagian ahli mengatakan bahwa level maksimal yang disarankan adalah kurang dari 85 dB.

Perlu dipahami bahwa masalah pendengaran ini bukan merupakan proses instan yang akibatnya langsung dapat dirasakan namun butuh waktu beberapa tahun sebelum gangguan muncul atau orang tersebut mengalami masalah pendengaran. Katakan misalnya , seorang remaja 15 tahun yang sering mendengarkan MP3 atau iPod dalam volume suara yang keras setiap hari, mungkin baru mengalami gangguan pendengaran saat usianya menjelang 30-an. Cepat lambatnya kerusakan pendengaran juga ditentukan oleh gaya hidup dan paparan pada sumber suara bising lainnya, misalnya, jika orang tersebut sering ke klub atau memainkan band, maka kerusakannya akan lebih buruk (sehingga silakan pikir lagi untuk datang  ke klub-klub atau menjadi anak band ^^).

Gangguan pendengaran karena bising merupakan gangguan pendengaran tipe saraf (tuli sensorineural) akibat kerusakan koklea atau saraf sensoris. Lebih ilmiah maka mari kita simak penjelasan seorang dokter spesialis THT (Telinga Hidung dan Tenggorokan) dari RSCM Jakarta. Beliau menyebutkan bahwa getaran kuat akibat gelombang suara keras akan merusak sel-sel rambut koklea dalam telinga dalam. Kerusakan itu akan menghambat impuls listrik mencapai saraf pendengaran sehingga tidak ada yang diteruskan ke otak untuk diinterpretasi sebagai suara. Mungkin pada tahun-tahun awal orang itu tidak akan merasakan gangguan, namun lambat laun ambang batas pendengarannya makin menurun sampai akhirnya tidak bisa mendengar suara lagi (terjadi ketulian akibat bising/ noise induced hearing loss). Kurang lebih seperti itu.

Tips aman dan nyaman mendengarkan audio (kajian agama/pengajian, lantunan ayat al Qur’an lebih rekomendasikan -adm) :

  1. Gunakan earphone tidak melebihi 1 jam per hari dengan volume yang ringan (jika diasumsikan pendapat ahli benar bahwa jika mendengarkan musik via earphone dan semisalnya lebih dari satu jam sehari dalam jangka minimal lima tahun, membawa risiko gangguan pendengaran permanen). Namun, jika kita ingin lebih hati-hati, hindari mendengarkan audio via earphone dan semisalnya. Dengarkan saja lewat speaker aktif di kamar (lebih sepi) atau output audio netbook/nootebok atau jika dari handphone posisikan loudspeaker untuk mendengarkan audio  (kalau ada ^^). Hemat saya hal ini lebih nyaman karena kita tidak tahu berapa besar ukuran suara yang kita dengar (kecuali Anda membeli alat ukur suaranya dan mengukurnya)…
  2. Hindari mendengarkan audio via earphone dan semisalnya di lingkungan yang bising, seperti di jalan raya, pasar, mall, dan selainnya. Karena hal ini akan memicu Anda untuk menaikkan volume audio yang Anda dengar untuk mengimbangi suara di sekitar. Belum lagi, jika hal ini kita lakukan bisa jadi akan mengganggu konsentrasi kita, saat berjalan, bercakap-cakap, belanja dan aktivitas yang penting sehingga menimbulkan hal yang tidak diinginkan.
  3. Jika Anda ingin mendengarkan audio via headshet, gunakan tipe ‘gagdet’ yang besar yang memenuhi bagian luar telinga (bukan yang kecil yang masuk ke lubang telinga). Alasannya, gangguan suara sekitar dapat diminimalisir sehingga kita dapat mendengar suara audio tanpa terganggu masuknya suara di sekitar dan tidak perlu volume besar untuk mendengarkannya.

Demikian sedikit informasi dan tips ini kami sajikan. Allahu a’lam

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s