Inti Kesehatan Jiwa

Kehidupan yang penuh dengan tuntutan dan tekanan di era masa sekarang ini, membuat sebagian orang mengalami tekanan mental (stress) dan mengalami berbagai macam gangguan kejiwaan lainnya. Banyak upaya dilakukan melalui berbagai pendekatan dari berbagai disiplin ilmu, seperti ilmu psikologi, psikiatri dan kedokteran untuk mengatasi permasalahan ini. Pendekatan berbagai disiplin ilmu tadi belumlah menyentuh akar permasalahan jiwa yang mendasar (esensial). Sesungguhnya, ilmu pengetahuan dan metode pendekatan buatan manusia tersebut (dalam mengidentifikasi penyakit kejiwaan) telah disadari oleh berbagai pihak, sarat dengan kelemahan. [1]


Islam, Panduan yang Sempurna

Adapun Islam adalah panduan yang langsung berasal dari Sang Pencipta alam semesta ini, yaitu Allah Subhanahu wata’ala. Islam yang berlandaskan pada Al Qur’an yang tidak akan pernah berubah, dengan pemahaman yang benar dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan generasi awal umat Islam. Islam adalah agama yang sempurna, universal. Tak lengkang oleh waktu dan tempat. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman, yang artinya :

“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu  menjadi agama bagimu.” [QS. Al Maidah : 3]

Agama sebagaimana manusia menganalisis, membuka hubungan ‘trascenden’ (sesuatu yang istimewa atau luar biasa) antara hamba dengan penciptanya. Dan kalbu manusia merupakan aset terpenting di dalam hubungan ini, karena Allah ta’ala berfirman :

إِنَّ أَكْرَ مَكُمْ عِنْدَ اللهِ أَتْقَٰكُمْ

“Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu.” [QS. Al Hujurat : 13]

Dan ketaqwaan itu ada di dalam kalbu, sebagaimana firman Allah ta’ala yang artinya :

“Demikianlah (perintah Allah). dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan qalbu.” [QS. Al Hajj : 32]

Jadi dengan demikian, Islam memberikan perhatian yang luar biasa kepada kesehatan dan kesucian jiwa.

Allah Subhanahu wata’ala dengan sebelas sumpahNya berturut-turut, dan keberuntungan bagi orang yang mau menyucikan jiwanya dari berbagai dosa dan kejelekan,

Demi matahari dan cahayanya di pagi hari. Dan bulan apabila mengiringinya. Dan siang apabila menampakkannya. Dan malam apabila menutupinya. Dan langit serta pembinaannya. Dan bumi serta penghamparannya. Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu. Dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” [QS. Asy Syams : 1-10]

Kesehatan jiwa didefinisikan oleh sebagian orang sebagai perasaan sehat, bahagia, kemampuan menghadapi tantangan hidup, menerima orang lain sebagaimana adanya, dan sikap positif terhadap diri sendiri dan orang lain.

Hal yang demikian, bahkan yang lebih dari itu, dapat dicapai dengan kembali kepada Allah Subhanahu wata’ala. Mengapa? Karena Allah Subhanahu wata’ala adalah Dzat yang menciptakan jiwa, kalbu manusia, sebagaimana Dia Subhanahu wata’ala menciptakan jasadnya. Maka, hanya Dia-lah yang mampu mencukupi segala kebutuhan jiwa, sebagaimana Dia-lah yang telah mencukupi segala kebutuhan raga.

Allah Subhanahu wata’ala akan mencukupi kebutuhan jiwa manakala manusia mau mengikuti tuntunan dan aturanNya, sebagaimana yang telah diterangkan oleh rasulNya Shallallahu ‘alaihi wasallam. Di dalam syariat Islam telah terkumpul tuntunan yang menjadikan jiwa senantiasa dalam keadaan seimbang. Sebagai contoh, seorang bisa jadi tertimpa tekanan mental atau depresi yang diakibatkan oleh kekecewaan terhadap suatu keadaan seseorang yang tidak mendapatkan sesuatu yang menjadi ambisinya. Atau, ia tertimpa sesuatu yang tidak disukainya seperti mendapatkan kecelakaan sehingga harus kehilangan salah satu anggota badan. Contoh yang lain adalah ketika ia kehilangan jabatan atau menderita kerugian besar dalam usahanya. Di saat seperti inilah syariat memberikan “obat penenang” terhadap jiwanya, melalui ajaran kesabaran dan harapan pengampunan dosa atas musibah itu. Ia pun akhirnya memiliki keyakinan dan harapan kuat akan balasan Allah Subhanahu wata’ala di akhirat kelak, atas kesabaran dan penyandaran diri yang sempurna pada Allah Subhanahu wata’ala, juga atas keyakinannya kepada takdir Allah Subhanahu wata’ala serta prasangka baik bahwa segala ketetapanNya itu pastilah mengandung hikmah dan kebaikan bagi hambaNya.

Hal ini adalah sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ibnul Qoyyim rahimahullah di dalam pasal : Petunjuk Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam di dalam penjelasan masalah I’tikaf (Zaadul Ma’ad 2/39), bahwasanya baik dan lurusnya kondisi hati (jiwa) manusia adalah apabila hati itu berada di atas ‘rute perjalanan’ kepada Allah Subhanahu wata’ala dan tergantung pada terpusatnya hati itu kepada Allah Subhanahu wata’ala. Ibnul Qoyyim rahimahullah juga menjelaskan, bahwa hati yang ‘tercerai berai’ hanya dapat diperbaiki dengan melakukan ‘iqbal’, yaitu menghadapkan diri kepada Allah ta’ala dengan seluruh ketaatan. Penjelasan Ibnul Qoyyim rahimahullah ini sungguh sangatlah penting, bagi mereka yang peduli pada masalah kalbu atau kesehatan jiwanya.

Tauhid dan sehatnya Jiwa

Apabila seorang hamba menyadari untuk apa dia diciptakan (yaitu untuk beribadah -admin), kemudian ia melakukan upaya nyata merealisasikan tujuan penciptaanya itu, niscaya gejolak dan keresahan jiwanya akan selalu mendapatkan obat penawar. Kesedihan, kebingungan, tekanan hati, kekecewaan, ataupun kemarahan, semuanya itu telah tersedia obatnya di dalam syariat Islam. Kuncinya hanya satu, ia mau menyerahkan hidupnya, matinya, dan pengabdiannya semata-mata untuk Allah Subhanahu wata’ala. Inilah yang merupakan hakikat dari tauhid. Allah Subhanahu wata’ala berfirman (yang artinya):

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” [QS. Adz Dzariyat : 56]

Allah Subahanahu wata’ala juga berfirman :

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, sembelihan (ibadah)ku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” [QS. Al An’am : 162]

Tatkala seseorang hamba telah menyerahkan seluruh hidupnya kepada Rabb semesta alam, niscaya ia akan mengikuti syariatNya, kemudian menaati setiap perintahNya, dan menjauhi segala laranganNya. Dan diantara perintah Allah Subhanahu wata’ala adalah perintah untuk menuntut ilmu agama. Dengan ilmu, iman akan terbangun dengan kokoh dan amalan shaleh akan dilakukan dengan benar. Iman dan amalan shalehnya itu dengan izin Allah akan mengobati kegalauan jiwanya sekaligus memberikan kebahagiaan dan ketenangan di dalam hidupnya.

Allah Subahanahu wata’ala berfirman (yang artinya):

“Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) yang benar untuk disembah selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan.” [QS. Muhammad : 19]

 Maka dengan izin Allah ta’ala, seorang muslim akan selalu sehat jiwanya, bilamana ia mengembalikan segala urusan hanya kepada Allah ta’ala, dan melangkah sesuai bimbingan ilmu yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam kepada para sahabat beliau. Dengan demikian, bekal ilmu yang ada pada dirinya dapat memberikan jalan keluar bagi setiap masalah yang menimpanya hingga ia menutup matanya. Ini semua sesungguhnya merupakan ujian atas pernyataan keimanannya. Wallahul muwaffiq (Dan Allah lah pemberi pertolongan -admin) [2]

Allahu a’lam bish Shawab.

——————————————————————————

[1] kami rangkum sebagai pendahuluan dari paragraf awal sumber aslinya, semoga mendekatkan pemahaman. Bagi yang ingin menyimak silakan merujuk padanya.

[2] disadur dari Majalah Muslim Sehat edisi 01|1432 H-2011

Selesai disadur pada Ahad pagi yang cerah, 5 Syawal 20011

Iklan

3 pemikiran pada “Inti Kesehatan Jiwa

  1. Ping balik: Stress dan Reaksi Tubuh « HomePage | Blog

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s